[FANFIC] GOODBYE, FRED WEASLEY

Berhubung masih awal bulan April nih, Aunty Snitch punya satu fanfic tentang si kembar Fred dan George.
Aunty temuin di salah satu website namanya ( www.fanfiction.net ), tapi pengarangnya Aunty kurang tau. Buat yang penasaran bisa dibaca dulu deh. Happy Reading, Freakish :)

_______________________________________________________________



George menatap wajah Fred. Wajah Fred tampak damai dengan senyum terakhirnya. Matanya terpejam seakan sedang tertidur nyenyak tapi dengan tubuh yang dingin dan kaku.


Air mata menggenang di kedua mata george.

Fred telah tiada.
Kini George sendiri setelah sembilan belas tahunnya tidak pernah berpisah lebih lama dari setengah jam dengan Fred. Dia tidak bisa lagi mendengar ide-ide brilian Fred. Dia tidak bisa merencanakan dan menciptakan produk baru untuk tokonya dan Fred. Dia harus mencari orang yang bersedia menjadi kelinci percobaan. ‘Mr Weasley dan Mr Weasley’ dari mulut Verity tidak akan pernah dia dengar lagi.

George masih ingat betul ketika dia dan Fred masih kecil, mereka selalu menjahili keluarga mereka termasuk Ron dan Ginny yang bahkan belum bisa memanggil nama mereka dengan benar.

Mereka mengubah boneka beruang Ron menjadi laba-laba besar. Mereka nyaris menyelesaikan proses Sumpah tak terlanggar dengan Ron ketika mereka berumur 7 tahun yang membuat fred dan george mempunyai perbedaan yang tidak dapat dilihat semua orang.

Suara Fred yang mengolok-olok Percy di tahun pertama mereka di Hogwarts masih jelas di telinganya. Begitu juga lagu Hoggy-warty-Hogwarts yang mereka nyanyikan dengan kompak dalam mars pemakaman,apalagi ketika mereka dapat sweater natal dari ibu mereka, dan mereka menemukan nama yang lain GRED and FORGE .

Malam ketika mereka menaiki Ford Angelina ayah mereka bersama Ron untuk membawa Harry ke the burrow.

“George, ayo pindahkan jenazah Fred ke Aula besar.”seorang pria berkata dengan suara tercekat. Lee Jordan, sahabat mereka di Hogwarts,

George mengangguk dan membiarkan Lee mengangkat Fred dengan tongkatnya. “tidak Lee. Biar aku saja,” kata george. Mengusap matanya berusaha tegar. Lee menurunkan tubuh Fred perlahan dan George berusaha menggotong tubuh kaku itu,

Lee mengayunkan tongkat dan memunculkan tandu dari udara kosong. “kita pakai ini saja, tanpa sihir”katanya kepada George.

George setuju dan menidurkan Fred keatas tandu itu dan membawanya bersama Lee menuju aula besar.

Jarak dari korindor tempat tubuh tak bernyawa Fred tersembunyi di dalam ceruk ke aula besar cukup jauh. George dan Lee harus menyusuri beberapa korindor dan melewati tempat-tempat yang tidak George sukai, karena ketika dia melewati tempat-tempat itu, kenangannya ketika Fred masih hidup kembali terulang dikepalanya.

Korindor dimana Fred dan George mengerjai murid-murid Slytherin dengan bom kotoran, kelas kosong dimana Peeves yang sedang menulis kata-kata kasar di papan tulis dan kedua anak kembar itu menakut-nakutinya dengan menirukan suara Baron Berdarah.

Bahkan, walaupun tidak melewatinya. Pemandangan kantor Filch yang suram pun terbayang dimata George. Laci khusus untuk menyimpan catatan kenakalan Fred dan George. Detensi mereka dikantor itu, ketika mereka pertama kali menemukan Marauder’s map .

Segala detensi yang mereka dapat dari setiap guru, segala canda tawa yang telah mereka utarakan. Tidak satupun dari semua hal itu dapat george hapus dari pikirannya.

Setelah perjalanan berat dan menyakitkan itu, George dan Lee sampai di aula besar. Molly berlari menghampiri George dengan air mata bercucuran. Di tempat yang seharusnya ada meja Gryffindor.

Arthur, Bill – merangkul istrinya Fleur, Charlie, Percy dan Ginny menatapnya dengan wajah tersedih yang pernah George lihat seumur hidupnya. George dan Lee menurunkan tandu pelan-pelan karena Molly langsung memeluk George.

“Oh George! Syukurlah kau baik-baik saja!” Isak Molly tidak jelas, memeluk anak laki-lakinya dengan tubuh yang berguncang keras. George memeluk ibunya dan menengadah menatap langit-langit aula yang gelap dengan taburan bintang-bintang menahan air matanya yang akan segera jatuh ke pipinya yang berbintik-bintik. Dia tidak berani memandang wajah ibunya, seperti ia tidak berani memandang wajah fred lagi.

“Mrs. Weasley, aku turut berduka cita”guman Lee membelai pundak Molly.

“Lee,”Molly melepas George dan memegang pipi Lee dengan tangan bergetar. “kau anak yang baik,terima kasih sudah membantu George membawa F—Fred”

Lee tersenyum lemah, matanya tampak kosong. Kesedihan yang dipikulnya sama besar dengan kesedihan keluarga Weasley. Selama lima tahun dia bersahabat sangat akrab dengan Fred dan George. Dia pun masih mengingat wawancara terakhirnya dengan Fred di Potterwatch.

“George,”panggil Arthur pelan. “apakah kau terluka?” Madam Pomfrey mengobati yang terluka disana. Kau sebaiknya diobati dulu, Lee lukamu tampak cukup parah.”

“Aku baik-baik saja,Dad.” Gumam George. Ginny menghampirinya dan memeluknya. George membelai rambut adik perempuannya itu dengan sayang. Ginny membenamkan wajahnya di dada George dalam diam, tapi george tahu bahwa gadis berambut merah Weasley itu sedang menangis.

Charlie, Bill, Fleur dengan mata merah dan bengkak akibat menangis dan air mata yang masih bercucuran yang sama sekali tidak menutupi wajah cantiknya dan Percy juga telah mendekati George dan Ginny “apa kau melihat Ron selama menuju kesini?” Tanya Charlie.

“Tidak, dia tidak disini? Tanya george masih memeluk Ginny.

Percy menggeleng, matanya agak sembab. George sangat yakin dia sempat menangis tadi.

“Harry dan Hermione?”Tanya George lagi.

“Mereka juga tidak ada disini”jawab Bill.

“George”panggil seorang gadis dibelakang george. ‘Angelina Johnson’. Gadis yang mulai diincar Fred sejak tahun ke enam mereka dan menjadi pacar Fred dihari pertama mereka membuka Weasley’s Wizard Wheezes.

“Angelina”ujar george dengan suara serak. “tanganmu tidak apa-apa? Tanyanya menunjuk tangan kiri Angelina yang di balut,

“Cuma patah,”kata Angelina pelan. George diam, tidak berbicara apa-apa lagi karena pikirannya sedang melayang.

Waktu mereka kelas lima, Fred dan George sempat bertengkar karena baik Fred maupun George tidak mau mengaku bahwa mereka menyukai Angelina. Waktu bertengkar pun, kedua weasley kembar itu pun tetap kompak dan berbuat usil di depan semua orang dan mulai beragumen ketika mereka Cuma berdua disatu ruangan.

Akhirnya setelah dipaksa George, Fred mau membiarkan saudaranya itu mengalah. George mendukung Fred dengan tulus. Dia ikut bersorak di kamar mereka ketika ajakan ke pesta dansa natal Fred diterima dengan mulus oleh Angelina.

“Oliver dan yang lain sangat mencemaskan kau dan Lee ketika kami mendengar Fred—“ Angelina menghapus air matanya “--Fred meninggal”

Oliver, keeper handal itu sangat senang ketika Fred dan George menjadi Beater untuk tim Quiddtch Gryffindor. Fred dan George selalu mengganggunya ketika dia sedang memberikan pidato singkat sebelum pertandingan dimulai.

George mengusap pundak Angelina. Tiba-tiba suara Voldemort yang dikeraskan secara sihir terdengar, membuat george dan Angelina tersentak. Seluruh aula besar hening dan tampak tegang mendengar suara itu,

“Aku berbicara sekarang Harry Potter, langsung kepadamu. Kau telah mengizinkan teman-temanmu mati untukmu dari pada ngahadapiku sendiri. Aku akan mengunggumu selama satu jam di hutan terlarang. Jika pada akhir satu jam itu, tidak menyerah maka pertempuran mulai lagi , kali ini aku sendiri yang akan ikut dalam kehebohan ini, Harry Potter. Dan aku akan membunuh setiap orang, laki-laki, perempuan, anak-anak yang mencoba menyembunyikanmu dariku.

“Ap—Harry, jangan dengarkan dia”gumam Mr Weasley. “apa ada yang melihat Harry?”tanyanya kepada segombolan murid ravenclaw dan hufflepuff.

George selama itu malah teringat lelucon yang dia dan Fred buat tentang Lord Voldemort. U—No—Poo , mereka berdua memikirkan slogan itu semalaman dan sempat berdebat sebelum akhirnya setuju untuk memakai nama U—No—Poo.

“Harry, semoga dia baik-baik saja.” Gumam Ginny kepada dirinya sendiri tapi terdengar oleh George yang berdiri disampingnya. George bahkan tidak sadar kapan Ginny melepaskan pelukannya.

Mendengar nama Harry, George tanpa sadar memandang tempat yang seharusnya ada meja Gryffindor. Ketika Harry diseleksi ke dalam Gryffindor, George dan Fred sibuk berseru “kami dapat Potter! Kami dapat Potter!” dengan semangat dimeja itu , dia dapat melihat bayangan mereka yang sedang duduk di meja itu dengan jelas.

Ketika kamar rahasia dibuka, dia dan Fred pernah berjalan didepan Harry dan berkata “beri jalan untuk pewaris Slytherin”dan sebagainya, semua itu ide Fred.

Fred anak yang cerdas, dia lebih kreatif daripada George, lebih kuat, lebih tegar.

“Kenapa harus Fred yang meninggal? Kenapa bukan aku saja?”seru George dalam hatinya.

Harry, Ron , dan Hermione masuk ke aula besar. George melangkah menuju tempat jenazah Fred berbaring dengan keluarganya. Dia tidak dapat menahan air matanya. Adegan kenangan masa lalunya bersama Fred terus terbayang dikepalanya.

“George,”panggil ron dengan suara serak. “aku akan membantumu di toko leluconmu dan Fred”

“Thanks, Ron.”gumam George. Menghapus air matanya dan berusaha tersenyum.

Tawa ceria Fred sudah tidak akan terdengar lagi. Celoteh dan leluconnya tidak akan terdengar lagi.

GOODBYE FRED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika ada pertanyakan yang ingin diajukan seputar stuff yang kami jual, bisa langsung hubungi salah satu kontak yang ada di halaman 'How To Buy' atau langsung isi formulir 'Contact Us' Tidak disarankan bertanya di kolom komentar karena akan kami abaikan. Terima kasih. :)