YANG SATU TAK BISA HIDUP SEMENTARA YANG LAIN BERTAHAN

"Yang memiliki kekuatan untuk menaklukkan Pangeran kegelapan sudah dekat…dilahirkan kepada mereka yang telah tiga kali menantangnya, dilahirkan bersamaan dengan matinya bulan ketujuh…dan Pangeran Kegelapan akan menandainya sebagai tandingannya, tetapi dia akan memiliki kekuatan yang tidak diketahui Pangeran Kegelapan…dan salah satu harus mati di tangan yang lain, karena yang satu tak bisa hidup sementara yang lain bertahan

Begitulah bunyi ramalan yang disebutkan secara tidak disengaja dan tidak disadari oleh Sybill Patricia Trelawney, seorang wanita yang pada suatu malam di tahun 1979 dikisahkan sedang mencoba melamar pekerjaan untuk menjadi Guru Ramalan di Sekolah Sihir Hogwarts. Keahliannya sebagai peramal diragukan oleh kebanyakan orang, karena selama alur cerita Harry Potter hanya 2 ramalannya yang tidak meleset, sedangkan sisanya hanyalah ramalan yang ia buat-buat, dan kebanyakan hanya mengungkapkan kesialan yang akan diterima orang yang sedang diramalnya. Dan pertemuan malam itu terjadi di Hog's Head, namun ternyata bukan hanya Albus Dumbledore yang mendengarnya saat ramalan itu terucapkan dari mulut Sybill yang "kerasukan." Severus Snape, yang saat itu berstatus sebagai Pelahap Maut, sebutan bagi pengikut Lord Voldemort, telah mencuri-dengar sebagian kecil dari seluruh ramalan yang disebutkan oleh Sybill, dan memberitahukannya kepada Pangeran Kegelapan.

Pada Juli 1980, semua kriteria dalam ramalan pun akhirnya terlihat mengacu pada dua anak: Neville Longbottom, anak dari pasangan Auror Frank & Alice Longbottom, yang lahir pada 30 Juli, dan juga Harry Potter, anak dari James dan Lily Potter, yang lahir 31 Juli.  

"…dan Pangeran Kegelapan akan menandainya sebagai tandingannya."

Ya, Voldemort memilih anak keluarga Potter sebagai target yang akan dibunuhnya, bersugesti bahwa anak itulah yang akan menaklukannya, ia berpikir dengan membunuh anak itu bahkan sebelum dia mempelajari sihir artinya tak akan ada lagi yang mengancam dirinya. Harry Potter dalam bahaya.

Sepertinya Severus mengalami ketakutan yang amat sangat pada saat itu, mengingat perasaan cintanya pada Lily Evans Potter masih tersimpan rapat di hatinya sejak dulu dan bahkan sampai saat itu, dalam kedoknya sebagai Pelahap Maut. Mencoba membuat permintaan atau memohon kepada Voldemort untuk tidak membunuh Lily kemungkinan adalah salah satu cara yang dilakukannya. Merasa tak cukup dengan itu, Severus akhirnya datang kepada satu-satunya orang yang menurutnya paling ditakuti Lord Voldemort, Albus Dumbledore. Berikut ini adalah percakapan Albus Dumbledore dan Severus Snape yang dikutip dari Harry Potter dan Relikui Kematian, halaman 891-892.

"Nah, Severus? Ada pesan apa dari Lord Voldemort untukku?"

"Tidak ada—tidak ada pesan—aku datang atas kemauan sendiri!"

Severus meremas-remas tangannya. Dia kelihatan agak sinting, dengan rambut hitamnya yang terjurai terbang berkibaran di sekelilingnya.

"Aku—aku datang membawa peringatan—bukan, permohonan—tolong—"

Dumbledore menjentik tongkat sihirnya. Meskipun dedaunan dan ranting-ranting masih beterbangan dalam udara malam di sekitar mereka, keheningan jatuh di tempat dia dan Snape berhadapan.

"Permohonan apa yang bisa diajukan Pelahap Maut kepadaku?"

"R—ramalan... prediksi... Trelawney..."

"Ah, ya," kata Dumbledore. "Seberapa banyak yang kausampaikan kepada Lord Voldemort?"

"Seluruhnya—seluruhnya yang kudengar!" kata Severus. "Itulah sebabnya—karena alasan itulah—dia beranggapan itu berarti Lily Evans!"

"Ramalan itu tidak merujuk ke seorang wanita," kata Dumbledore. "Ramalan itu bicara tentang anak laki-laki yang dilahirkan pada akhir bulan Juli—"

"Kau tahu apa maksudku! Dia menganggap itu berarti anaknya, dia akan mengejar Lily—membunuh mereka semua—"

"Kalau dia berarti sebegitu besar bagimu," kata Dumbledore, "tentunya Lord Voldemort tidak akan membunuhnya? Tidak bisakah kau meminta belas kasihan untuk ibunya, sebagai ganti anaknya?"

"Aku sudah—aku sudah memintanya—"

"Kau membuatku jijik," kata Dumbledore, belum pernah terdengar nada penghinaan yang sebesar itu dalam suaranya. Severus tampak agak mengkeret. "Kau tidak peduli, kalau begitu, soal kematian suami dan anaknya? Biar saja mereka mati, asal kau mendapatkan apa yang kauinginkan?"

Severus tidak berkata apa-apa, hanya mendongak menatap Dumbledore.

"Sembunyikan mereka semua, kalau begitu," dia berkata parau. "Jaga dia—mereka—agar selamat. Kumohon."

"Dan apa yang akan kauberikan kepadaku sebagai imbalannya, Severus?"

"Im-imbalannya?" Severus ternganga memandang Dumbledore, sesaat seperti akan protes, tapi setelah diam lama dia berkata, "Apa saja."

Dumbledore tidak tinggal diam, ia menyarankan keluarga Potter untuk melindungi tempat tinggal mereka dengan mantra Fidelius. Sirius Black, yang pada awalnya akan menjadi pemegang rahasia, malah lebih menyarankan Peter Pattigrew untuk menjadi pemegang rahasianya dengan maksud untuk mengelabui Voldemort, tanpa Sirius tahu bahwa sebenarnya Peter telah menjadi pelayan setia Lord Voldemort pada saat itu dan mengkhianati sahabatnya, dan segalanya sudah terlambat. Voldemort telah diberitahu tentang keberadaan Potter dan kemudian mengunjungi Godric's Hollow, sebuah desa penyihir dimana keluarga Potter saat itu bersembunyi, pada 31 Oktober malam tahun 1981...


Dia sudan melewati ambang pintu dan James cepat-cepat berlari ke ruang depan. Mudah sekali, terlalu mudah, dia bahkan tidak mengambil tongkat sihirnya...

"Lily, bawa Harry pergi! Dia yang datang! Pergilah! Lari! Akan kutahan dia-"

Menahannya, tanpa tongkat sihir ditangannya! ...Dia tertawa sebelum meluncurkan kutukan...
"Avada Kedavra!"

"Jangan Harry, jangan Harry, kumohon jangan Harry!"


"Minggir, perempuan bodoh... minggir sekarang..."

"Jangan Harry, kumohon jangan, bawalah aku, bunuh aku sebagai gantinya-"

"Ini peringatan terakhirku-"

"Jangan Harry! Tolong... kasihanilah... kasihanilah... Jangan Harry! Jangan Harry... Kumohon-akan kulakukan apa saja-"

"Minggir-minggir, peremuan-"

Dia bisa memaksanya menyingkir dari ranjang bayi, tetapi rasanya lebih bijaksana menghabisi mereka semuanya...

[Harry Potter dan Relikui Kematian]


Secara mengejutkan, Harry Potter berhasil selamat pada malam itu dan mendapat sebutan "The Boy Who Lived / Anak Yang Bertahan Hidup" di kalangan penyihir, sementara orang tua Harry, James dan Lily, tewas. Kekuatan dan tubuh Voldemort pun menghilang setelah terkena kutukan yang berbalik. Perlindungan yang diberikan Lily tidak sia-sia, meninggalkan sihir perlindungan bagi Harry yang membuatnya tak berhasil terbunuh malam itu.

Singkat cerita, Dumbledore telah merencanakan kepindahan Harry ke Privet Drive dimana disana tinggal satu-satunya keluarga Harry, Petunia Evans Dursley, kakak dari ibunya. Hagrid diperintahkan pergi ke Godric's Hollow untuk membawa bayi keluarga Potter dan mengantarnya ke Privet Drive. Sirius, yang saat itu juga baru saja sampai di Godric's Hollow dengan menggunakan motor terbangnya berniat membawa Harry karena ia adalah wali Harry, tapi Hagrid dengan tegas menolak dan menuruti apa yang diperintahkan Dumbledore, dan Sirius memberikan motornya sebagai kendaraan bagi Hagrid untuk membawa Harry ke Privet Drive.

"Kupikir ... kau akan ... menjaganya ... agar selamat ..."

"Dia dan James menaruh kepercayaan mereka pada orang yang salah," kata Dumbledore. "Agak seperti kau, Severus. Bukankah kau berharap Lord Voldemort tidak akan membunuhnya?"

Napas Severus pendek-pendek.

"Anaknya selamat," kata Dumbledore.

Dengan sedikit kedikan kepala, Severus seolah mengusir lalat yang menyebalkan.

"Anaknya hidup. Dia memiliki mata ibunya, persis mata ibunya. Kau ingat bentuk dan warna mata Lily Evans, aku yakin?"

"JANGAN!" teriak Severus. "Pergi ... Mati ..."

"Apakah ini penyesalan yang dalam, Severus?"

"Kenapa bukan ... aku saja yang mati ..."

"Dan apa gunanya itu bagi siapa saja?" kata Dumbledore dingin. "Kalau kau mencintai Lily Evans, kalau kau betul-betul mencintainya, maka jalanmu ke depan jelas."

Severus seolah mengintip melewati kekaburan rasa sakit, dan kata-kata Dumbledore tampaknya perlu waktu lama untuk dapat mencapainya.

"Apa—apa maksudmu?"

"Kau tahu bagaimana dan kenapa dia mati. Pastikan kematiannya tidak sia-sia. Bantu aku melindungi anak Lily."

"Dia tidak perlu perlindungan. Pangeran Kegelapan sudah pergi—"

"—Pangeran Kegelapan akan kembali, dan Harry Potter akan dalam bahaya besar kalau dia kembali."

Sunyi lama, dan perlahan Severus berhasil menguasai diri, mengatur napasnya. Akhirnya dia berkata, "Baiklah. Baiklah. Tapi jangan pernah—jangan pernah bilang siapapun, Dumbledore! Ini hanya antara kita berdua. Bersumpahlah. Aku tak tahan ... apalagi anak Potter ... aku menginginkan janjimu!"

"Janjiku, Severus, bahwa aku tak akan pernah membuka sisi terbaikmu?" Dumbledore menghela napas, menunduk memandang wajah Severus yang ganas, amat menderita. "Kalau kau bersikeras ..."

[Harry Potter dan Relikui Kematian, halaman 893-894]

BACA JUGA...
ALUR WAKTU DALAM SERI HARRY POTTER

3 komentar:

  1. it's so sad story. i'm potterhead, tapi belum pernah baca bukunya hehe. the best movie ever, i guess.

    BalasHapus

Jika ada pertanyakan yang ingin diajukan seputar stuff yang kami jual, bisa langsung hubungi salah satu kontak yang ada di halaman 'How To Buy' atau langsung isi formulir 'Contact Us' Tidak disarankan bertanya di kolom komentar karena akan kami abaikan. Terima kasih. :)